Bron Captering Pincuran Gadang merupakan salah satu peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1923. Bron Captering masih berfungsi hingga saat ini dalam memasok kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Solok, dengan sistem transmisi dan distribusi gravitasi dari Mata Air Pincuran Gadang.

Masih terdapat banyak rumah gadang ( rumah adat khas minang kabau) di Kota Solok. Salah satunya Rumah Gadang Gajah Maharam (sebelah kiri) ini, mempunyai lima gonjong berserambi kecil untuk tangga naik saja, memiliki relief ukiran bunga matahari pada setiap tiangnya dan dinding depan dihiasi banyak ornament ukiran flora . Menurut cerita, rumah gadang ini  dibangun secara gotong royong oleh  murid-murid Syech Sialahan Tahun 1905.  Bangunan ini juga pernah menjadi rumah Angku Lareh (Demang pada zaman Belanda).

Terdapat rumah adat 94 unit yang tersebar  di berbagai kelurahan, dengan yang paling banyak memiliki rumah adat berada di Kelurahan VI Suku, IX Korong di Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kelurahan Nan Balimo di Kecamatan Tanjung Harapan. Kemungkinan jumlah ini akan semakin menurun seiring perjalanan waktu karena lapuk termakan usia dan tidak dapat digunakan lagi.

 

Adapun surau tertua Kota Solok adalah Surau Latiah yang dibangun sekitar tahun 1902 dengan arsitektur bangunan berbentuk rumah adat model atap bergonjong, yang masih terpelihara hingga kini beserta makam Syech Sialahan yang berlokasi di Kelurahan KTK. Surau ini juga merupakan tempat menuntut ilmu agama bagi penganut aliran Tarikat Naksyabandiyah yang diajarkan Syech Sialahan untuk daerah Solok dan sekitarnya, termasuk pengamalan  seperti “Suluk” yaitu upaya pendekatan diri kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan ibadah di surau selama 40 hari, yaitu 4 hari sebelum puasa Ramadhan, 30 hari di Bulan Ramadhan dan 6 hari sesudah Ramadhan.