Isu - isu Strategis Skala Nasional untuk dijadikan prioritas penanganan selama kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang :

  • Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai : Pembangunan yang menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat; (ii) Pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan (iii) Pembangunan yang menjaga kualitas lingkungan hidup masyarakat yang didukung oleh tata kelola yang menjaga pelaksanaan pembangunan yang akan meningkatkan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.Dalam pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga peningkatan kualitas sosial masyarakat yang berlangsung saat ini, dalam pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan masih terdapat beberapa permasalahan, antara lain perluasan lapangan kerja dan penurunan kemiskinan membaik, namun masalah nutrisi khususnya di tingkat balita, jumlah absolut penduduk miskin dan pengangguran masih cukup besar. Selain itu, kesenjangan pendapatan dan kesenjangan antar daerah juga masih terjadi. Di sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat secara cukup stabil berkisar antara 5,0-6,6 persen selama 15 (lima belas) tahun terakhir. Demikian pula, pertumbuhan di daerah daerah juga terus meningkat. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang stabil tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi lingkungan hidup. Pembangunan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sumbangan sumberdaya alam, yakni sebesar kurang lebih 25% Produk Domestik Bruto (PDB), khususnya minyak, sumberdaya mineral, dan hutan. Hal ini menyebabkan deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan. Kualitas lingkungan hidup yang dicerminkan pada kualitas air, udara dan lahan juga masih rendah. Sebagai cerminan, indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan hidup masih menunjukkan nilai sebesar 64,21 pada tahun 2012. Untuk itu, pertumbuhan ekonomi yang terus ditingkatkan harus dapat menggunakan sumberdaya alam secara efisien agar tidak menguras cadangan sumberdaya alam, dipergunakan untuk mencapai kemakmuran yang merata, tidak menyebabkan masalah lingkungan hidup, sehingga dapat menjaga kualitas kehidupan dari satu generasi.

  • Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan gender (PUG) merupakan strategi mengintegrasikan perspektif gender dalam pembangunan. Pengintegrasian perspektif gender tersebut dimulai dari proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi seluruh kebijakan, program dan kegiatan pembangunan. PUG ditujukan untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pembangunan, yaitu pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk Indonesia baik laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan gender dapat dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan dalam mengakses dan mengontrol sumber daya, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan proses pembangunan.

  • Perlindungan dan kesejahteraan anak

Untuk menjamin dan melindungi anak akan haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta terlindungi dari segala bentuk kekerasan, perlakuan salah, penelantaran dan eksploitasi merupakan salah satu dasar penetapan isu ini. Kasus gizi buruk, partisipasi sekolah, putus sekolah, kekerasan terhadap anak, pekerja anak, anak jalanan dan lain-lain adalah fakta yang menunjukkan belum terpenuhinya perlindungan dan kesejahteraan anak.

  • Peningkatan Pemerataan dan Penanggulangan Kemiskinan

Pemerataan kemiskinan dan kemiskinan masih menjadi isu penting dalam pembangunan nasional. Ketimpangan dapat dilihat berdasarkan indeks gini yang pada tahun 2013 mencapai angka 0,41. Pada kondisi tersebut, pertumbuhan konsums per kapita kelompok penduduk pada 40 persen terbawah hanya tumbuh sekitar 2 persen. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi per kapita rumah tangga kelas menengah (persentil 40-80) tumbuh relatif lebih tinggi (antara 2 sampai 4,87 persen), meskipun masih jauh di bawah pertumbuhan konsumsi kelompok berpendapatan tertinggi yang tumbuh di atas 4,87 persen atau di atas rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional. Selain itu, perlambatan penurunan tingkat kemiskinan. Jika dilihat dari tingkat kemiskinan pada bulan Maret 2014 yang mencapai 11,25 persen, jumlah penduduk kurang mampu yang mengalami peningkatan kesejahteraannya sejak tahun 2010 kurang dari satu juta per tahun.

  • Pembangunan Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik

Permasalahan utama birokrasi dan tata kelola pemerintahan adalah masih terdistorsinya produk kebijakan publik, karena prosesproses yang tidak tidak transparan dan akuntabel, baik dalam proses penyusunan, pelaksanaan maupun monitoring dan evaluasinya.Sebagian proses pembuatan kebijakan masih berorientasi pada kepentingan politik partisan dan sesaat, bersifat elitis, sektoral, parsial, tidak terintegrasi, dan bahkan masih banyak ditemukan adanya kebijakan yang bertentangan satu sama lain, baik secara vertikal maupun horizontal, serta kurang mengakomodir dinamika sosial, ekonomi, budaya dan politik masyarakat.

  • Penataan Sistem Ekonomi yang Berkeadilan dan Berdaya Saing

Permasalahan utama bidang ekonomi adalah kesenjangan dan ketimbangan pembangunan daerah Jawa-luar Jawa, daerah yang kaya sumber daya alam dengan daerah yang miskin serta ketidak merataan dan ketidak adilan dalam penguasaan sumber daya ekonomi para pelaku ekonomi yang antara lain disebabkan oleh persoalan struktural berupa tumpang tindihnya peraturan perundangan serta akses yang tertutup bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan jaringan politik untuk mengelola sumber daya ekonomi, termasuk di bidang kehutanan dan pertambangan.

Selain itu dari aspek daya saing, dominasi ekspor Indonesia adalah ekspor bahan mentah yang bersumber dari kekayaan alam yang belum diolah, sehingga memiliki nilai ekonomis yang rendah. Penyebabnya adalah kurangnya kemampuan IPTEK dalam mengolahnya menjadi barang setengah jadi maupun produk akhir serta kurangnya kemampuan IPTEK dalam menciptakan dan membuat produk yang berkualitas. Budaya IPTEK yang kreatif dan inovatif harus difasilitasi. Selain itu kebanggaan terhadap produk dalam negeri kurang tertanam dalam diri warga negara Indonesia, image yang berkembang adalah bahwa produk dalam negeri selalu lebih buruk daripada produk luar negeri. Pencintaan terhadap produk tradisional (batik, dll) merupakan satu bentuk local genius yang baik untuk dikembangkan, khususnya di dalam negeri dan sebaiknya dipromosikan/dipasarkan ke luar negeri.